Bali Rent Car - Sewa Mobil di Bali Sewa Mobil di Bali

 

TENTANG KAMI
Home
Profil usaha
Client Kami
Testimonial

CARA PEMESANAN
Booking
Ketentuan Layanan

AKTIFITAS WISATA
Watersport Tanjung Benoa
Rafting di Ayung
Rafting di Telaga Waja
Bakas Levi Rafting
Seawalker Sanur
Seawalker Tanjung Benoa
Quicksilver Cruise
Bali Hai Cruises
Bounty Cruise
Sunset Dinner Cruise
Odyssey Submarine
Bali Canyon Tubing
Glassbottom + Pulau Penyu
Diving Tanjung Benoa
Diving Menjangan & Tulamben
Snorkeling
Parasailing
Jetski
Banana Boat
Flying Fish
Wisata Cycling (sepeda)
ATV Riding
Jungle Trekking
Buggy Ride
Wisata Unta
Wisata Naik Gajah Taro
Bali Marine Walk
Waterbom Bali
Bali Marine Safari Park
Bali Bird Park
Bali Zoo Park
Tiket Kecak Uluwatu
Tiket Tari Barong
Bali Treetop
Team Building Program
PaintBall Bali
Bungy Jumping
Sling Shot Bali

PAKET TOUR BALI
Paket Honeymoon
Paket Tour Kintamani
Paket Tour Bedugul
Paket Seafood + Kecak
Paket Tour Besakih

BALI CAR RENTAL
Sewa Mobil Bali
Sewa Bus Bali
Sewa Motor Bali

HOTEL MURAH
Hotel Dekuta
Sayang Maha Merta

PAKET MAKAN SPESIAL
Seafood Jimbaran
Mentari Bedugul
Pacung Indah Restaurant
Batur Sari Kintamani

TENTANG BALI
Budaya
Tempat menarik
Bali Blog

HUBUNGI KAMI
Jl. Pegending Permai I/4, Dalung, Kuta
0361 7977824
081933010670-24Jam
sales@e-kuta.com

Hubungi kami di Yahoo Messenger :

: bali.berjaya
: raracom.bali

 

Tempat Wisata Menarik Di Bali - Uluwatu

Uluwatu, yang terletak di ujung selatan pulau Bali dan mengarah ke samudra Hindia, merupakan tempat wisata yang menawan.

Apa yang menarik untuk dilihat di sini adalah pura yang berdiri kokoh di atas batu karang yang menjorok ke arah laut dengan ketinggian sekitar 50 meter. Di sore harinya sambil menikmati indahnya sunset, anda dapat menyaksikan pementasan tari bali yang terkenal hingga ke manca negara, tari Kecak.

Tidak hanya itu, bagi anda yang senang belajar sejarah, pura yang satu ini sarat akan nilai sejarahnya. Sejarahnya akan diuraikan sebagai berikut :

Dalam beberapa sumber disebutkan, sekitar tahun 1489 Masehi datanglah ke Pulau Bali seorang purohita, sastrawan dan rohaniwan bernama Danghyang Dwijendra. Danghyang Dwijendra adalah seorang pendeta Hindu, kelahiran Kediri, Jawa Timur.

Danghyang Dwijendra pada waktu walaka bernama Danghyang Nirartha. Beliau menikahi seorang putri di Daha, Jawa Timur. Di tempat itu pula beliau berguru dan di-diksa oleh mertuanya. Danghyang Nirartha dianugerahi bhiseka kawikon dengan nama Danghyang Dwijendra.

Setelah di-diksa, Danghyang Dwijendra diberi tugas melaksanakan dharmayatra sebagai salah satu syarat kawikon. Dharmayatra ini harus dilaksanakan di Pulau Bali, dengan tambahan tugas yang sangat berat dari mertuanya yaitu menata kehidupan adat dan agama khususnya di Pulau Bali. Bila dianggap perlu dharmayatra itu dapat diteruskan ke Pulau Sasak dan Sumbawa.

Danghyang Dwijendra datang ke Pulau Bali, pertama kali menginjakkan kakinya di pinggiran pantai barat daya daerah Jembrana untuk sejenak beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan dharmayatra. Di tempat inilah Danghyang Dwijendra meninggalkan pemutik (ada juga menyebut pengutik) dengan tangkai (pati) kayu ancak. Pati kayu ancak itu ternyata hidup dan tumbuh subur menjadi pohon ancak. Sampai sekarang daun kayu ancak dipergunakan sebagai kelengkapan banten di Bali. Sebagai peringatan dan penghormatan terhadap beliau, dibangunlah sebuah pura yang diberi nama Purancak.

Setelah mengadakan dharmayatra ke Pulau Sasak dan Sumbawa, Danghyang Dwijendra menuju barat daya ujung selatan Pulau Bali, yaitu pada daerah gersang, penuh batu yang disebut daerah bebukitan.

Setelah beberapa saat tinggal di sana, beliau merasa mendapat panggilan dari Hyang Pencipta untuk segera kembali amoring acintia parama moksha. Di tempat inilah Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh teringat (icang eling) dengan samaya (janji) dirinya untuk kembali ke asal-Nya. Itulah sebabnya tempat kejadian ini disebut Cangeling dan lambat laun menjadi Cengiling sampai sekarang.

Oleh karena itulah, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh ngulati (mencari) tempat yang dianggap aman dan tepat untuk melakukan parama moksha. Oleh karena dianggap tidak memenuhi syarat, beliau berpindah lagi ke lokasi lain. Di tempat ini, kemudian dibangun sebuah pura yang diberi nama Pura Kulat. Nama itu berasal dari kata ngulati. Pura itu berlokasi di Desa Pecatu.

Sambil berjalan untuk mendapatkan lokasi baru yang dianggap memenuhi syarat untuk parama moksha, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh sangat sedih dan menangis dalam batinnya. Mengapa? Oleh karena beliau merasa belum rela untuk meninggalkan dunia sekala ini karena swadharmanya belum dirasakan tuntas, yaitu menata kehidupan agama Hindu di daerah Sasak dan Sumbawa. Di tempat beliau mengangis ini, lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Ngis (asal dari kata tangis). Pura Ngis ini berlokasi di Banjar Tengah Desa Adat Pecatu.

Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh belum juga menemukan tempat yang dianggap tepat untuk parama moksha. Beliau kemudian tiba di sebuah tempat yang penuh batu-batu besar. Beliau merasa hanya sendirian. Di tempat ini, lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Batu Diyi. Juga di tempat ini Danghyang Dwijendra merasa kurang aman untuk parama moksha. Dengan perjalanan yang cukup melelahkan menahan lapar dan dahaga, akhirnya beliau tiba di daerah bebukitan yang selalu mendapat sinar matahari terik. Untuk memayungi diri, beliau mengambil sebidang daun kumbang dan berusaha mendapatkan sumber air minum. Setelah berkeliling tidak menemukan sumber air minum, akhirnya Danghyang Dwijendra menancapkan tongkatnya. Maka keluarlah air amertha. Di tempat ini lalu didirikan sebuah pura yang disebut Pura Payung dengan sumber mata air yang dipergunakan sarana tirtha sampai sekarang.

Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh kemudian beranjak lagi ke lokasi lain, untuk menghibur diri sebelum melaksanakan detik-detik kembali ke asal. Di tempat ini lalu didirikan sebuah pura bernama Pura Selonding yang berlokasi di Banjar Kangin Desa Adat Pecatu. Setelah puas menghibur diri, Danghyang Dwijendra merasa lelah. Maka beliau mencari tempat untuk istirahat. Saking lelahnya sampai-sampai beliau sirep (ketiduran). Di tempat ini lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Parerepan (parerepan artinya pasirepan, tempat penginapan) yang berlokasi di Desa Pecatu.

Mendekati detik-detik akhir untuk parama moksha, Danghyang Dwijendra menyucikan diri dan mulat sarira terlebih dahulu. Di tempat ini sampai sekarang berdirilah sebuah pura yang disebut Pura Pangleburan yang berlokasi di Banjar Kauh Desa Adat Pecatu. Setelah menyucikan diri, beliau melanjutkan perjalanannya menuju lokasi ujung barat daya Pulau Bali. Tempat ini terdiri atas batu-batu tebing. Apabila diperhatikan dari bawah permukaan laut, kelihatan saling bertindih, berbentuk kepala bertengger di atas batu-batu tebing itu, dengan ketinggian antara 50-100 meter dari permukaan laut. Dengan demikian disebut Uluwatu. Ulu artinya kepala dan watu berarti batu.

Sebelum Danghyang Dwijendra parama moksha, beliau memanggil juragan perahu yang pernah membawanya dari Sumbawa ke Pulau Bali. Juragan perahu itu bernama Ki Pacek Nambangan Perahu. Sang Pandita minta tolong agar juragan perahu membawa pakaian dan tongkatnya kepada istri beliau yang keempat di Pasraman Griya Sakti Mas di Banjar Pule, Desa Mas, Ubud, Gianyar. Pakaian itu berupa jubah sutra berwarna hijau muda serta tongkat kayu. Setelah Ki Pacek Nambangan Perahu berangkat menuju Pasraman Danghyang Dwijendra di Mas, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh segera menuju sebuah batu besar di sebelah timur onggokan batu-batu bekas candi peninggalan Kerajaan Sri Wira Dalem Kesari. Di atas batu itulah, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh beryoga mengranasika, laksana keris lepas saking urangka, hilang tanpa bekas, amoring acintia parama moksha.

Selain itu kawasan pantai di Uluwatu dengan ombaknya yang cukup besar sangat menantang untuk pencinta olahraga surfing. Tiap tahun event berlevel internasional selalu diadakan di pantai seputaran Uluwatu ini.

Objek Wisata Lainnya : Kintamani, Bedugul, Sukawati, Tanah Lot,, Tanjung Benoa dan Nusa Dua, Ubud, Pantai Dreamland, Kuta, Lovina, Besakih, Sanur, Batubulan, Denpasar, GWK, Jimbaran, Legian & Seminyak, Tulamben , Candidasa, Nusa Penida & Nusa Lembongan, Sangeh,

 

 
RENTAL MOBIL di BALI
(Harga belum termasuk bensin )
Toyota Avanza
Self Drive :Rp.240.000 /hari
Driver : Rp. 280.000/10 jam
--------------------------------------------
Daihatsu Xenia
Self Drive : Rp. 225.000/ hari
Driver : Rp. 270.000/10 jam
----------------------------------------
Suzuki APV
Self Drive : Rp. 230.000/hari
Driver : Rp. 280.000/10 Jam
------------------------------------------
Suzuki Karimun
Self Drive : Rp. 165.000/hari
Driver : Rp. 225.000/hari
-------------------------------------------
Karimun Estilo
Self Drive : Rp. 200.000 /hari
Driver : Rp. 250.000/10 jam
---------------------------------------------
Toyota Kijang Innova
Self Drive : Rp. 350.000 /hari
Driver : Rp. 425.000/ 10 Jam
--------------------------------------------
Kijang LGX / Kapsul
Self Drive : Rp. 280.000/hari
Driver : Rp. 310.000/10 jam
--------------------------------------------
Suzuki Jimny / Katana
Self Drive : Rp. 135.000/hari
Driver : Rp. 185.000/10 Jam
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sewa Mobil murah di Bali, Bali Car Rental, Bali rent Car, Rental mobil Bali : jimny karimun avanza xenia kijang karimun apv